Oleh: jemari | Februari 13, 2009

2. Lup

LUP

LUP

Lup (kaca pembesar) adalah alat optik yang terdiri dari sebuah lensa cembung yang digunakan untuk mengamati benda-benda kecil sehingga tampak lebih besar dan jelas.

Bayangan yang dibentuk oleh lup bersifat maya, tegak, dan diperbesar.

a.      Pengamatan lup dengan mata tak berakomodasi.

Untuk pengamatan menggunakan lup dengan mata tak berakomodasi, maka bayangan yang dibentuk oleh lup harus berada di titik jauh. Untuk mata normal titik jauhnya berada di takterhingga(~). Sehingga s’=-~. Agar bayangan berada di takterhingga, maka benda harus diletakkan di titik fokus lup. Jadi untuk mata normal yang tak berakomodasi,

s=f dan s’=-~

dengan persamaan umum perbesaran sudut(anguler) lup adalah:

persamaan-umum-lup

 

dengan                 Ma  = perbesaran sudut

                                sn    = jarak titik dekat mata pengamat

                                 s      = jarak benda

 maka untuk mata yang tak berakomodasi perbesaran sudut(anguler) lup adalah:

persamaan-lup-tanpa-akomodasi

 

dengan                 Ma  = perbesaran sudut

                sn      = jarak titik dekat mata pengamat

                f       = jarak fokus lensa

b.  Pengamatan lup dengan mata berakomodasi maksimum pada jarak x.

Dari persamaan untuk lensa tipis diperoleh bahwa:

pers1-akomodasi-pada-x

 

Jika nilai 1/s ini kita substitusikan ke dalam persamaan umum perbesaran anguler lup, maka akan kita peroleh:

pers-2-akomodasi-pada-x

persamaan-lup-akomodasi-pada-x

 

  1. Pengamatan lup dengan mata berakomodasi maksimum

 Untuk mata yang berakomodasi maksimum, bayangan yang dibentuk lup lertetak di titik dekat mata. Maka s’=sn, dan x= sn

pers1-akomodasi-maksimum

 

Maka perbesaran anguler untuk mata berakomodasi maksimum adalah:

pers-akomodasi-maksimum

(materi ini dapat di download di sini)

 

 

Oleh: jemari | September 16, 2009

DAFTAR NILAI UJI KOMPETENSI I KELAS X SMA BHK

BERIKUT INI DAFTAR NILAI KELAS X SMA BHK GROGOL

Downloadlah sesuai dengan kelas masing-masing:

Kelas X1

Kelas X2

Kelas X3

Kelas X4

Kelas X5

Bagi siswa yang nilainya masih di bawah 4,5 remedial akan dilakukan pada pertemuan ke – 2 setelah libur lebaran pada masing-masing kelas.

Oleh: jemari | Februari 13, 2009

Alat Optik

Pendahuluan

Di dalam bab pemantulan dan pembiasan kita telah mempelajari bagaimana bayangan dibentuk oleh cermin dan lensa. Berdasarkan konsep-konsep yang ada dalam bab tersebut kita gunakan untuk memahami bagaimana peralatan optik yang sering kita gunakan itu bekerja. Konsep bayangan sangat penting dalam memahami beberapa peralatan optik sederhana.

1. Mata

Pembentukan bayangan pada mata

Mata adalah salah satu organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai organ penglihatan. Mata dapat melihat suatu benda jika benda tersebut memantulkan cahaya. cahaya yang masuk ke mata kemudian dibiaskan oleh lensa mata, sehingga terbentuk bayangan di retina. Bayangan tersebut bersifat nyata terbalik diperkecil. bayangan tersebut kemudian diteruskan ke otak oleh saraf-saraf penglihatan, sehingga kita dapat melihat. Bayangan akan terlihat paling jelas bila jatuh pada bintik kuning ini merupakan bagian yang paling peka terhadap cahaya.

anatomi mata manusia

anatomi mata manusia

Pada gambar diatas adalah anatomi mata manusia dan proses pembentukan bayangannya.

 

 

Daya akomodasi

Jarak antara lensa mata dengan retina adalah tetap. Untuk melihat benda yang letaknya berubah-ubah, kecembungan lensa mata harus diubah. Dengan berubahnya kelengkungan lensa berarti berubah pula jarak fokus lensa.

Kemampuan mata untuk mengubah kecembungan lensa mata sehingga bayangan dapat tepat jatuh pada retina disebut daya akomodasi.

Apabila mata melihat benda yang jauh letaknya, otot mata dalam keadaan rileks, dan lensa mata manjadi lebih pipih(menipis). Keadaan yang demikian disebut keadaan tanpa akomodasi. Tetapi apabila mata melihat benda yang dekat, otot mata dalam keadaan mengencang dan lensa mata menjadi lebih  cembung(tebal), disebut keadaan akomodasi, jika keadaan  lensanya cembung maksimal disebut keadaan akomodasi maksimal.

 

Titik jauh dan titik dekat

Titik jauh(punctum remotum) adalah titik terjauh dari mata yang masih dapat dilihat dengan mata dalam keadaan tanpa akomodasi. Untuk orang dewasa dengan mata normal titik jauhnya berada pada jarak tak terhingga(~).

 

Titik dekat(punctum proximum) adalah titik terdekat dari mata yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata dalam keadaan akomodasi maksimum. Jangkauan akomodasi lambat laun berkurang karena umur hal itu dikarenakan lensa mata selalu tumbuh sepanjang hidup seseorang(lensa mata pada umur 60 tahun lebih besar kira-kira 50% daripada umur 20 tahun) dan otot siliar menjadi kurang mampu untuk mengubah bentuk lensa. Karena alasan ini, maka titik dekat mata lambat laun menyusut dengan semakin bertambah tuanya seseorang. Berikut ini adalah tabel titik dekat mata rata-rata dalam berbagai umur.

PENYUSUTAN TITIK DEKAT KARENA UMUR

UMUR(tahun)

TITIK DEKAT (cm)

10

7

20

10

30

14

40

22

50

40

60

200

 

Namun rata-rata titik dekat untuk mata normal adalah 25 cm.

 

 

Cacat mata

 

Ada beberapa cacat mata yang dapat dialami oleh manusia, yaitu: rabun jauh(miopi), rabun dekat(hipermetropi), mata tua(presbiopi), astigmatisma. Namun cacat mata yang akan kita bahas lebih lanjut adalah rabun jauh dan rabun dekat.

  1. Rabun jauh(miopi)

Penderita rabun jauh(miopi) tidak dapat melihat benda-benda yang letanya jauh dengan jelas.hal ini disebabkan karena lensa mata tidak dapat dipipihkan sebagai mana mestinya, sehingga sinar-sinar sejajar yang datang dari tempat yang jauh akan membentuk bayangan di depan retina. Titik jauh penderita miopi <~. Tampak seperti gambar berikut.

 

rabun jauh (miopi)

rabun jauh (miopi)

 

Penderita miopi dapat ditolong dengan menggunakan kacamata yang berlensa cekung atau negatif. Untuk menentukan seberapa besar kekuatan lensa yang harus digunakan tergantung dari titik jauh penderita. Agar dapat melihat benda-benda pada jarak tak terhingga, penderita miopi harus menggunakan lensa kacamata yang mengahasilkan bayangan didepan lensa pada jarak yang sama dengan titik jauh penderita. Bayangan bersifat maya sehingga s’=titik jauh penderita.

Sehingga persamaan untuk menentukan besar kekuatan lensa yang harus digunakan oelh penderita miopi adalah:

rumus-miopi

dengan:       s = titik terjauh mata normal, yaitu ~

                       s’= titik jauh penderita(bernilai (-) karena bayangan yang terlihat maya)

2. Rabun dekat(Hipermetropi)

 

Penderita rabun dekat (hipermetropi) tidak dapat melihat benda-benda yang dekat dengan jelas, walaupun mata telah berakomodasi maksimal. Hal ini disebabkan karena mata tidak dapt dicembungkan dengan sebagaimana mestinya, sehingga sinar-sinar dari benda yang dekat akan membentuk bayngan di belakang retina. Titik dekat penderita hipermetropi >25 cm. Tampak seperti gambar berikut ini.

250px-hypermetropia

Rabun dekat (hipermetropi)

 

Penderita hipermetropi dapat ditolong dengan mengunakan kacamata yang berlensa cembung atau positif.

Kekuatan lensa yang digunakan oleh penderita hipermetropi tergantung dari titik dekat penderita, maka penderita rabun dekat harus menggunakan lensa kacamata yang menghasilkan bayangan didepan lensa pada jarak yang sama dengan penderita. Bayangan yang terlihat adalah maya sehingga s’= – titik dekat penderita.

Sehingga kekuatan lensa yang harus digunakan oleh penderita hipermetropi dapat ditentukan dengan persamaan;

rumus-miopi

 

dengan:       s = titik dekat mata normal (25 cm)

                        s’=titik dekat penderita(bernilai (-) karena bayangan yang terbentuk maya)

(materi pelajaran ini dapat juga di download di sini)

Oleh: jemari | September 19, 2008

Materi Pembelajaran Fisika kelas X

Semester I

1. Besaran Fisika dan Satuannya

  • Pengukuran
  • Besaran dan Satuan
  • Penjumlahan Vektor
  • Perkalian Vektor

2. Gerak Lurus

  • Besaran-besaran pada Gerak Lurus
  • Gerak Lurus Beraturan
  • Gerak Lurus Berubah Beraturan

3. Gerak Melingkar Beraturan

  • Besaran dalam Gerak Melingkar
  • Gerak Melingkar Beraturan

4. Dinamika Partikel

  • Formulasi Hukum-hukum Newton
  • Mengenal Berbagai Jenis Gaya
  • Analisis Kuantitatif Masalah Dinamika Partikel Sederhana
Oleh: jemari | September 17, 2008

Kurikulum Fisika SMA kelas X

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

SEMESTER I

1. Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya.

  • 1.1 Mengukur besaran fisika (massa, panjang, dan waktu).
  • 1.2 Melakukan penjumlahan vektor.

2. Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda titik.

  • 2.1 Menganalisis besaran fisika pada gerak dengan kecepatan dan percepatan konstan.
  • 2.2 Menganalisis besaran fisika pada gerak melingkar dengan laju konstan.
  • 2.3 Menerapkan Hukum Newton sebagai prinsip dasar dinamika untuk gerak lurus, gerak vertikal, dan gerak melingkar beraturan.

SEMESTER II

3. Menerapkan prinsip kerja alat-alat optik.

  • 3.1 Menganalisis alat-alat optik secara kualitatif dan kuantitatif.
  • 3.2 Menerapkan alat-alat optik dalam kehidupan sehari-hari.

4. Menerapkan konsep kalor dan prinsip konservasi energi pada berbagai perubahan energi.

  • 4.1 Menganalisis pengaruh kalor terhadap suatu zat.
  • 4.2 Menganalisis cara perpindahan kalor.
  • 4.3 Menerapkan asas Black dalam pemecahan masalah.
Oleh: jemari | Maret 11, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.